(oleh): Muhammad Suryadi

           Negara berkembang adalah sebuah negara dengan rata – rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relatif terbelakang, dan indeks perkembangan manusia yang kurang dibandingkan dengan norma global. Istilah ini mulai menyingkirkan Dunia Ketiga, sebuah istilah yang digunakan pada masa Perang Dingin. Perkembangan mencakup perkembangan sebuah infrastruktur modern (baik secara fisik maupun institusional) dan sebuah pergerakan dari sektor bernilai tambah rendah seperti agrikultur dan pengambilan sumber daya alam. Negara maju biasanya memiliki sistem ekonomi berdasarkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menahan sendiri. Penerapan istilah ‘negara berkembang’ ke seluruh negara yang kurang berkembang dianggap tidak tepat bila kasus negara tersebut adalah sebuah negara miskin, yaitu negara yang tidak mengalami pertumbuhan situasi ekonominya, dan juga telah mengalami periode penurunan ekonomi yang berkelanjutan. Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia merupakan wujud optimisme serta luapan aspirasi untuk mendukung mewujudkan visi Indonesia yaitu menjadi Negara yang maju. Di dalamnya terdapat pemikiran-pemikiran, cita-cita, imajinasi dan mimpi untuk menjadi masyarakat dengan kualitas hidup yang tinggi, sejahtera dan kreatif.

Indonesia yang sampai sekarang masih berpredikat Negara berkembang terus-terusan mencari cara untuk memajukan beberapa aspek penting yang mendorong kemajuan suatu Negara seperti dalam cakupan pertumbuhan ekonomi,kesejahteraan rakyatnya,baik buruknya kualitas SDA dan SDM,tingkat pendidikan,tingkatan kesehatan,dan masih banyak lagi. “Kekrativitasan bisa menuntun seseorang untuk menjadi sukses dan menjadi lebih maju, dan apa yang akan terjadi jika kekreativitasan itu diterapkan kedalam sistem perekonomian dalam suatu Negara?”

Ekonomi kreatif yang mencakup industri kreatif, di berbagai negara di dunia saat ini, diyakini dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian bangsanya secara signifikan. Indonesia pun harusnya mulai melihat bahwa berbagai subsektor dalam industri kreatif berpotensi untuk dikembangkan, karena Bangsa Indonesia memiliki sumberdaya insani kreatif dan warisan budaya yang kaya.Hal ni diyakini dapat menjawab tantangan permasalahan dasar jangka pendek dan menengah:relatif rendahnya pertumbuhan ekonomi pasca krisis (rata-rata hanya 4,5% per tahun),tingginya pengangguran (9-10%), tingginya tingkat kemiskinan (16-17%), dan rendahnya daya saing industri di Indonesia.1 Selain permasalahan tersebut, ekonomi kreatif ini juga diharapkan dapat menjawab tantangan seperti isu global warming, pemanfaatan energi yang terbarukan, deforestasi, dan pengurangan emisi karbon, karena arah pengembangan industri kreatif ini akan menuju pola industri ramah lingkungan dan penciptaan nilai tambah produk dan jasa yang berasal dari intelektualitas sumber daya insani yang dimiliki oleh Indonesia, dimana intelektualitas sumber daya insani merupakan sumber daya yang terbarukan.

Sebagai langkah nyata dan komitmen pemerintah untuk mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia , maka pemerintah telah melakukan kajian awal untuk memetakan kontribusi ekonomi dari industri kreatif yang merupakan bagian dari ekonomi kreatif.Lalu kemudian ditindaklanjuti dengan pembuatan ‚Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif serta‚Rencana Pengembangan 14 Subsektor Industri Kreatif, dan akhirnya diharapkan setiap departemen teknis terkait akan membuat rencana kerja berupa program dan kegiatan nyata (rencana aksi) yang akan dilakukan untuk mengembangkan sektor industri kreatif ini. Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif  ini akan memaparkan pengantar dan arah pengembangan ekonomi kreatif Indonesia, kerangka kerja pengembangan ekonomi kreatif, dan rencana strategis pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Rencana Pengembangan 14 Subsektor Industri Kreatif  akan memaparkan pemahaman umum, kontribusi ekonomi, analisis dan pemetaan kondisi, rencana strategis pengembangan, dan cerita sukses untuk masing-masing subsektor industri kreatif. Sedangkan Rencana Kerja Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia di masing- masing departemen teknis terkait diharapkan dapat memuat rencana aksi yang mengacu kepada Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif  serta Rencana Pengembangan 14 Subsektor Industri Kreatif.

Era ekonomi kreatif yang jelas-jelas menguntungkan dan mampu memberi banyak kontribusi dalam berbagai sektor kehidupan di tengah mulai menipisnya kuantitas dan kualitas sumber daya alam pun kurang disosialisasikan pemerintah kepada masyarakat. Hal ini menjadi penyebab utama tidak semua masyarakat memahami, bahkan tidak turut mengambil andil dalam sistem ini. Maka tak heran jika pertanyaan tentang kontribusi ekonomi kreatif dalam perekonomian dilontarkan pada masyarakat Indonesia, sebagian besar dari mereka akan melihatnya sebagai suatu hal asing. Malahan mereka akan balik bertanya tentang definisi dan peranan ekonomi kreatif tersebut. Padahal negara-negara lain di dunia sudah memasukkan ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pendapatan negaranya. Seperti yang terjadi di Inggris, yaitu pelopor pengembangan ekonomi kreatif, industri itu tumbuh rata-rata 9% per tahun, dan jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara itu yang 2% – 3%. Sumbangannya terhadap pendapatan nasional mencapai 8,2% atau US$ 12,6 miliar dan merupakan sumber kedua terbesar setelah sektor finansial. Ini melampaui pendapatan dari industri manufaktur serta migas.

Hal yang sama juga terjadi di Australia, US, dan Singapore. Jika kita melihat pada tahun 2008 dalam perkembangan ekonomi kreatif dibeberapa negara maju, seperti Singapore mampu memberi kontribusi GDP IK berkisar sampai 2,8% dan tingkat partisipasi kerja berkisar 3,4%, Inggris mampu memberi kontribusi GDP IK sampai dengan 7,9% dan pertumbuhan PDB industri kreatif berkisar 16%, pertumbuhan PDB industri kreatif di Australia berkisar 5,7%, dan juga tingkat partisipasi kerja di US sampai 5,9%.Bukti data tadi sudah lebih dari cukup bagi Indonesia yang terkenal akan kekayaan beragam budaya,sedangkan pemerintah baru akan memulai mencanangkan totalitas pengaplikasian pengetahuan berbasis teknologi dan kebudayaan ini dalam sistem ekonomi di tahun mendatang. Sebagaimana halnya dengan visi misi Departemen Perdagangan tentang ekonomi kreatif Indonesia, pemerintah mencanangkan peningkatan ekspor berdasarkan kearifan dan warisan budaya lokal. Pemerintah pun tidak bisa menyangkal bilamana ekonomi kreatif memainkan peran yang cukup signifikan serta memberi kontribusi yang tidak sedikit, baik itu dalam bidang ekspor, PDB, maupun penciptaan lapangan kerja dan usaha. Iklim bisnis pun akan menunjukkan titik cerah dan pengangkatan citra dan identitas bangsa dalam turisme dan ikon nasional melalui industri ekonomi kreatif.

Pada tahun 2008 kontribusi industri kreatif Indonesia tidak banyak menyumbang bagi pendapatan nasional, seperti kontribusi PDB sebesar 151 triliun rupiah (7,28% dari total PDB Indonesia), jumlah penyerapan tenaga kerja mencapai 7,7 juta pekerja dengan tingkat partisipasi 7,53%, nilai ekspor mencapai 114,9 triliun rupiah dan berkontribusi sebesar 7,52% terhadap total nilai ekspor nasional (pertumbuhan nilai nominal ekspor). Empat subsektor yang memberikan kontribusi paling tinggi adalah fashion (43%), kerajinan (25%), periklanan (8%) dan desain (6%). Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan  ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era pertanian ke era industri dan informasi. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang  merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif. Menurut ahli ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model-model ekonomi.

Di dunia dengan keterbatasan fisik ini, adanya penemuan ide-ide besar bersamaan dengan penemuan jutaan ide-ide kecil-lah yang membuat ekonomi tetap tumbuh. Ide adalah instruksi yang membuat kita mengkombinasikan sumber daya fisik yang penyusunannya terbatas menjadi lebih bernilai. Romer juga berpendapat bahwa suatu negara miskin karena masyarakatnya tidak mempunyai akses pada ide yang digunakan dalam perindustrian nasional untuk menghasilkan nilai ekonomi.

Bayangkan jika semua penjelasan akibat dari penerapan ekonomi kreatif di atas bisa si raih Indoenesia,mungkin rakyat Indonesia bisa hidup jauh lebih baik dengan standar kehidupan yang lebih tinggi,atau bahkan korupsi tidak akan pernah terjadi lagi karna setiap orang sudah hidup dengan sejahtera.Satu hal yang diharapkan yaitu peran serta aktif pemerintah yang lebih intensif bersama dengan para pelaku lain dalam menerapkan ekonomi kreatif bisa mengarahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk lebih maju lagi dan menjadi Negara maju.

About these ads

About msuryaadi

Mr.Simple... a student who is living in dormitory @ SmanSumSel (sampoerna academy). loves to travel,play game, and speak up !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s